Halimatus
sa’diyah
kajian kitab suwar sohabiyah (oleh ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc alhafidz)
Seorang
wanit desa yang hidup terpencil, bersedia menjadi wanita yang menyusui
Rasulullah saw. Beliau merasakan keberkahan saat menyusui Muhammad saw. Daerahnya
bernama sa’diy deket thaif. Sa;diy merasa takut saat malaikat mendekati
rasulullah saw. Kemudian dikembalikan pada ibunya dan dirawat oleh ibunya yang
dibantu oleh budaknya ummu aiman.
Salah satu
cabangnya adalah kembali pada firman Allah swt. “alam yajid ka ya tiiman fa
awa. Masa kecil nabi Muhammad saw adalah yatim. Bagaimana anak yatim bisa
tumbuh menjadi tokoh nomor 1 di dunia (hasil penelitian Maikel Heart). Dalam qs.
Duha, disebutkan bahwa beliau anak yatim. Siapa gurunya, bagaimana mendidiknya
padahal anak yatim. Allah sebutkan “fa awaaa”. Artinya adalah dididik,
dibesarkan dengn istimewa oleh Allah swt.
Dibalik
kisah halimah sadiyah. Mengharuskan kita memahami masa kecil rasulullah saw. Kondisinya
sangat tidak kondusif. Allah yang bombing, merawat, membesarkan. Lalu bagaimana
dengan anak-anak kita saat ini?.
Pentingnya
mengandalkan dalam pendiidkan anak nomor 1 adalah Allah swt sebagaimana
rasulullah saw langsung dibimbing oleh Allah swt melalui tangan yang dipilih
oleh Allah swt yaitu seorang wanita bernama halimah sadiyah. Di sinilah muncul
pertanyaan. Manakah Pendidikan anak yang terbaik pesantren atau di rumah? Yang penting
adalah menghidupkan peran bahwa Allah adalah berperan penting dalam Pendidikan (nilai-nilai
Rabbani) keluarga. Apabila diberi anak maka jadikanlah doa yang
direkomendasikan dalam quran sebagai wiridnya. Terlebih wirid ini dikuatkan
dengan amalan lain. Meskipun anak kita bukan nabi, bisa jadi anak kita menjadi “fa
awaa”. Apabila kita senantiasa melibatkan Allah dalam proses pendiidkan anak
kita. Kisah Nabi Yusuf as. Beliau juga mendapatkan “fa awa”. Itulah dahsyatnya “awaa”.
Dalam proses mendidik anak-anak.
Putri
halimah sa’diyah bernama syaima. Masuk islam setelah perang hunain (8 H). Beliau
kakak persusuan dengan rasulullah saw. Saat masa kecil rasulullah saw menjadi
teman bermain syaima. Syaima menjadi kakak rasulullah saw. Sewaktu kecil
rasulullah sering dgendong syaima bahkan punggung syaima pernah terluka
gara-gara di gigit rasulullah saw sewaktu kecil dna lukanya sampe berbekas tidak hilang.
Saat perang
hunain, semua umat muslim diwajibkan berperang bahkan hewan-hewan pun ikut
berperang. Saat itu rasulullah menang berperang hingga adanya ghanimah yang melimpah
bahkan mendapatkan budak-budak. Ternyata salah satu budak yang didapatkan
adalah syaima. Saat itu syaima belum islam. Sahabat kaget karena syaima
menyebutkan bahwa dirinya adalah rodoah (kakak susu). “ana ukhtuka ya Muhammad”.
Rasulullah percaya ga percaya. Lalu syaima menunjukkan punggungnya yang luka
waktu kecil yang pernah digigit rasulullah waktu kecil. Lalu rasulullah
menyambut syaima. Betapa hormatnya rasulullah kepada kakak susuannya meskipun
saat itu syaima belum islam. Islam mengajarkan agar tetap berakhlak meskipun
belum muslim. Sebagai qiyadah terbiasa memaklumi kebijakan apa saja untuk
syaima. Maka rasulullah saw sama sekali tidka menawan syaima. Sahaabt sebagai
jundi yang taat pada pimpinannya sama sekali tidak menaruh perasaan kesel namun
ridho pada pimpinannya yaitu rasulullah saw.
Rasulullah
menawari syaima untuk bergabung dengan islam tetapi tidak langsung mengajak
pada islam. Akhirnya syaima terkesan dengan rasulullah saw dan sahabat sehingga
syaima masuk islam.
Daerah
di sya’diy memang dikenal dengan daerah untuk menyusui bayi-bayi dari Makkah. Biasanya
mereka mencari bayi-bayi di mekkah. Pada umumnya wakita-wanita sya’diy selalu
mengincar keluarga kaya. Tujuannya agar gajinya besar. Sementara Halimah, saat
itu tidak beruntung. Semua bayi-bayi dari kalangan orang kaya sudah diborong wanita
lain. Halimah dengan suaminya bernama harist, terus mencari. Aminah ibunda
pernah menyuisi Muhammad saw. Namun tidak lama. adat di arab memang seperti itu
menitipkan anaknya untuk disusui oleh orang lain. Akhirnya halimah bertemu
dengan Aminah yang memiliki bayi namun bukan dari kalangan orang kaya. Maka dibawalah
Muhammad saw dengan terpaksa oleh halimah dan harist.
Ketika
bayi itu sampai di rumah, harist melihat suatu hal yang luar biasa. Suasana desa
kdang-kadang saat itu paceklik (kambing kurus2, dll) sehingga apa yang dimakan
terbatas. Namun saat bayi itu ada, kondisi daerahnya berubah menjadi subur. Harist
curiga dengan bayi (Muhammad saw). Menyebutkan harist bahwa bayi ini
mendatangkan barokah. Dari situlah halimah semakin mencintai bayi ini betapapun
tidka banyak upah dari keluarga bayi ini karena Abdullah ayah Muhammad saw
sudah meninggal. Halimah terus bersemangat sampai dua tahun dan merasakan keberkahan
yang luar biasa.
Ibrah yang
luar biasa terkait dengan fadilah yang dijelaskan rasulullah saw. Jangan pernah
ragu kalua kita merawat anak yatim bahwa allah akan berikan keberkahan dari
allah swt. Jangan menggunakan akal untk mendidik anak yatim. Yakin aja mumpung
ada peluang. Ada peran campur tangan Allah swt.
Halimah
dan harist mengawal dan membina anak yatim yaitu Muhammad saw sewaktu bayik. Saat
usia nabi Muhammad saw 3 tahun setelh peristiwa pembelahan dada rasulullah
akhirnya dikembalikan kepada Aminah.
Tujuan
pembinaan adat bangsa arab memberikan penyusuan di daerah sa’diy
1.
Kehidupan yang masih alami, mandiri di desa.
2.
Belajar tata krama, Bahasa. Bahasa orang
kampung di sana halus-halus. Bagi bangsa arab, hdup di kampung langsung belajar
Bahasa arab aseli dengan balagah. Kehidupan syaima yang masih remaja saja sudah
melantunkan syair-syairnya sendiri.
Ummu
aiman, pernah juga menyusui rasulullah saw. Begitu juga syaiban pernah menyusui
Muhammad saw sebelum di bawa ke halimah. Maka setelah dari halimah, sejak usia
3 tahunan yang mendidik adalah ummu aiman.
Ummu aiman
di mata rasulullah wanita yang istimewa sebelum ummu aiman menjadi nabi atau
setelah menjadi nabi saw. Ummu aiman mengurusi jenazah ibunya dari awal hingga akhir.
Ummu aiman
menikah dengan zaid bin harist (usia yang terpaut jauh). Kemudian melahirkan
anak bernama usamah bin zaid. Begitu dicintai oleh rasulullah saw. Sehingga
para sahabat pun mencintai keluarga ini.
Ummu aiman
sangat intens berinteraksi dengan Alquran. Bagaimana islam memuliakan menusia. Ummu
aiman dulu budak tapi ketika semuanya all out membela islam, dakwah, berjuang Bersama
rasulullah justru mereka lah yang dicintai rasulullah saw.